Arsip untuk referensi

Termehek-mehek rekayasa?

Pasti pada tau reality show termehek-mehek donk yang tayang setiap hari sabtu dan minggu pukul 18.15 di Trans TV. Reality show yang membantu mencari orang hilang. Dibawakan oleh Panda dan Mandala, tiap episode beda klien dan beda cerita. Ceritanya memang bermacam-macam, tapi seringkali berakhir dramatis kayak sinetron.

Waktu acara ini premier, aku ngeliat kok namanya aneh “Termehek-mehek” (selanjutnya kusingkat TM ya). Dari namanya aja kayaknya sih udah males nonton. Lalu setelah beberapa episode, temen-temen saya pada mbicarain TM. Katanya ceritanya mengharukan banget. Jadi ada cewek yang tiba-tiba cowoknya ngilang gitu aja. Dicari cari cari, ternyata sampai ke desa tempat cowok itu berasal, dan bertemu dengan ibu si cowok. Si ibu mengajak si klien cewek itu beserta kru TM yang ternyata ke tempat pemakaman. Akhirnya si ibu bilang anak laki-lakinya itu sudah meninggal beberapa minggu yang lalu karena terkena penyakit.

Semenjak itulah aku tertarik nonton TM. Cerita bagus dan seringkali sad ending, kalaupun happy ending, tapi tetep sedih jg diawalnya kayak kisah cowok naksir cewek di tempat ice skating, tapi cuman bisa mandangin cewek itu dari jauh. Waktu si cewek menghilang, cowok itu minta tim TM untuk mencari cewek dengan ciri2 ini. Setelah ketemu ternyata sang idaman hati adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara. Sang klien cowok sempet ragu, setelah diyakinkan Panda dan Mandala, akhirnya cowok itu mau menerima cewek pujaan hatinya itu apa adanya. Happy ending deh.

Akhirnya aku jadi penonton setia TM. Apalagi adegan yang paling kusuka adalah waktu seorang bapak nyari anaknya yang tiba2 hilang di stasiun. Ternyata anaknya selama ini adalah korban trafficking. Sampek acaranya dibikin 2 episode, pencarian yang alot tapi akhirnya ketemu jg meski harus gontok-gontokan dengan pelaku penculikan.

Apa yang membuat saya yakin TM itu hanya rekayasa?

Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »

Nginstall Microsoft Visual Studio 6.0

Berulang kali saya mencoba nginstall microsoft visual studio 6.0, tapi begitu dibuka gagal terus. Semacam gagal menginstall atau mencurigai installernya yang rusak (tiwas sudah suudzon sama share-share-an di suhu tongue).

Bingung, akhirnya mutung deh nginstall visual studio 6.0-nya. Lalu saat aku jalan-jalan ke lab RPL, di white board lab RPL terdapat tulisan kiat sukses menginstall visual studio 6.0. Kalo nginstall visual studio 6.0 itu sambil menjalankan microsoft office apa aja. Agak bingung juga sama kata-kata yang ditulis di white board lab RPL itu. Yah, kuserap dulu. Memahaminya lain hari aja.

Trus esok harinya ketika rapat admin+pengurus laboratorium grid komputing a.k.a GCL (Grid Computing Laboratory), mas zul memberi tips kalau nginstall visual studio 6.0 itu sambil menjalankan microsoft visio. Nah ketika muncul gambar dibawah ini, biarkan saja loading sampai habis, gak usah dicancel.

Ketika kucoba tips dari mas zul, dan ternyata nginstall visual studio 6.0 – nya berhasil. Kalo dipikir-pikir opo hubungane. Waktu nginstall installer visual studio 6.0 tidak memberi peringatan apa-apa (atau ketika aku baca petunjuk ngnstall, ada yang terlewati ya). Tau-tau gagal aja. Tapi dengan tips dari mas zul (dan terinspirasi dari tips lab RPL tentunya) yang dipikir-pikir aneh, tapi manjur juga. Kok bisa gitu ya…..????

Komentar (2) »

Pencurian organ, ngeri kakak!!

Kisah nyata yang terjadi di sebuah kota besar di Indonesia. Seorang anak yang masih SMA, ketika pulang sekolah diculik oleh seseorang beserta sepeda motornya. Tiba-tiba seminggu kemudian anak tersebut dikembalikan ke rumahnya dalam keadaan lengkap beserta motornya.

Tetapi, anak itu ada yag merasa aneh dengan perutnya. Di daerah perutnya ada bekas jahitan. Setelah diperiksa ke rumah sakit, ternyata ginjalnya hilang satu biji. Ngeri…!!!!

Buat semuanya, ati-ati aja.

Komentar (1) »

Film Ayat-Ayat Cinta dibandingkan dengan novelnya

Ngambil dari blog orang

*****

Indahnya bayangan tak seindah kenyataan.

Ayat-ayat Cinta, sebuah Novel sarat nilai syariah. Banyak istilah-istilah Syariah Islam yang dimasukkan oleh pengarangnya (bahasa Arab, talaqqi, qiraah sabâ’ah, taaruf, nusyuz, fiqih munakahat, fiqih wanita, istikharah, kitab-kitab Islam Klasik, dll). Novel yang penuh nilai-nilai spiritual dan idealisme Islam seperti ini kemudian diangkat ke dalam film “Cinta”. Tentu akhirnya banyak terjadi reduksi nilai-nilai Islam dalam Film ini.

Awal film menceritakan adengan Maria dengan Fahri dan temannya di Flat. Bahkan Maria datang membetulkan komputer Fahri yang rusak. Dalam novel, sebenarnya tidak ada adegan maria masuk ke flat Fahri dkk sampai makan satu baki bersama. Bisa saya jelaskan kenapa Maria selalu mengulurkan keranjang untuk berkomunikasi (minta beliin disket, kasih uang, dll), adalah karena memang budaya Arab tidak mengenal seorang wanita main-main ke tempat Pria. Hal ini tabu.

Sosok Fahri adalah cerminan seorang yang lembut dan teduh, sebagaimana ikhwan pada umumnya. Dalam film tergambar Fahri lebih sebagai pria gaul dengan banyak fans dengan tutur kata yang belum mencerminkan seorang ikhwan.

Selama proses talaqqi, suara tilawahnya sangat jauh beda dengan suara seorang Ferdi Nuril. Terdengar aksen orang asing. Apalagi surat Ar-Rahman yang dibaca terlalu dilagukan. Setahu saya, talaqqy biasa dilakukan hanya dengan bacaan standart agar efektif. Jika dilagukan seperti itu bisa memakan waktu berjam-jam..

Selanjutnya banyak adegan khalwat antara Fahri dengan Maria, terutama di tepi sungai Nil. Akhirnya terkesan di antara keduanya telah terjalin hubungan spesial. Apakah Fahri yang S2 Al-Azhar tidak tahu kaidah ini: “Tidaklah seorang muslim berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya kecuali yang ketiga adalah syetan”?

Nilai Syariah dalam Proses Taaruf yang indah juga hilang. Titik berat film ini lebih banyak pada masalah Fahri di pengadilan. Sedangkan awal film yang semestinya bisa memberi penggambaran tentang proses pernikahan yang baik dan bagaimana pertimbangan Fahri dalam memilih pasangan sebagai contoh seorang pemuda yang ingin menikah
banyak tidak tergambar utuh, sehingga yang tampak malah seorang Fahri yang diburu gadis-gadis. Lengkap dengan surat cintanya masing-masing. Porsi tentang muhasabah dan istikharah menuju jenjang pernikahan yang semestinya bisa menjadi penyampaian pesan “Ayat-ayat Cinta” justru tidak tergambar baik.

Setelah akad seharusnya keduanya saling berpisah, dan menunggu acara walimatul ‘Urs berlangsung untuk kemudian bertemu di malam Zafaf.

Penjelasan Fahri kepada Alicia tentang perintah memukul Istri apabila istri melakukan pembangkangan (Nusyuz) dalam ayat Al-Qur’an terlalu singkat dan tidak memberi gambaran yang utuh tentang syariat ini. Tapi saya salut dengan bahasa Inggrisnya.

Terakhir, adegan yang “berlebihan” seperti berciuman seharusnya tidak perlu ditampilkan. emang yah….disini mah film cuma buat komersil azah…. nilai dakwah yang diharapkan, luntur….

Komentar (8) »