Sepenggal kisah di SPMB 2005

Bermula ketika hari pengumuman kelulusan SMA, disaat-saat aku masih cupu-cupunya (sekarang sih masih cupu, cuma level kecupuannya udah menurun), aku langsung menyambar koran untuk melihat siapakah yang beruntung meraih danem tertinggi tingkat SMA se-Jawa Timur. Ow…ternyata bukan aku anak smala. Melainkan anak SMA 21 Surabaya. Di koran tersebut diberitakan bahwa rumah anak itu (aku lupa namanya, tapi sebut saja Amir) di Dukuh Kupang Barat. Yah nggak jauh-jauh amat dari rumahku yang Dukuh Kupang Timur. Amir ini anak tukang tambal ban. Tapi hebat banget bisa bikin orangtuanya bangga.Diberitakan pula bahwa ketika SPMB nanti pilihan pertama si Amir adalah Teknik Informatika ITS dan pilihan keduanya adalah Teknik Kimia ITS. Waw, pilihan pertamanya sama denganku. Cuman aku IPC. Pilihan pertamaku Teknik Informatika ITS, pilihan kedua Sistem Informasi ITS, dan pilihan ketiga Hubungan Internasional Unair.Tibalah saat-saat yang menegangkan. Ujian SPMB dimulai. Nggak berani sarapan karena aku nggak terbiasa sarapan. Salah-salah waktu SPMB malah bolak-balik ke belakang. Oke, hari pertama sukses. Tapi hari kedua…d'oh. Ancur. Terutama fisika. Yah, pikirku aku mungkin bakalan ketrima di pilihan kedua lah.

Sambil menunggu datangnya pengumuman SPMB, aku coba ikut-ikutan tes STAN. Buat cadangan kalo gak ketrima SPMB (Nggak kebalik nih, STAN khan lebih susah, harusnya SPMB yang buat cadangan tes STAN).

Akhirnya, tibalah di hari pengumuman SPMB. Wew….ternyata aku ketrima di pilihan pertama. Nggak nyangka juga. Padahal aku dah terlanjur pasrah bakal ditrima di pilihan kedua. Oke..oke…Seneng? Iya? Apalagi ada temen yang senasib seperjuangan mulai dari SMA kelas 1-2 sampai SMA kelas 3IPA 2 yang sama-sama masuk Teknik Informatika ITS yakni saudari Sari Rachmatika. Tapi perjuangan belum selesai. Bayangan ospek yang menakutkan selalu menghantui. Lalu aku teringat pada Amir. Gimana ya si Amir? Ketrima nggak ya? Pasti ketrima lah? Dia khan pinter. Danem tertinggi se-Jawa Timur bo…

Sambil menunggu hari-hari menuju daftar ulang, aku buka-buka kembali buku panduan SPBM. Mataku tertuju pada jurusan Teknik Industri Universitas Indonesia. Ternyata jumlah peminat jauh dibawah Teknik Informatika ITS. Teknik Informatika ITS sekitar 2500-an lebih, Taknik Industri UI “cuma sekitar” 1700-an. Wew, kenapa gak terpikir untuk milih TI UI aja. Secara UI gitu loh. Di mata masyarakat kita terlihat lebih wah….Tapi ya…syukurilah apa yang kamu dapat sekarang.

Daftar ulang di hari kedua, akhirnya aku memperoleh NRP 5105100066. Baru tau kalo ternyata Teknik Infromatika disebut TC (dibaca tese). Kupikir TI. Ternyata TI itu Teknik Industri. Memasuki masa ospek (di ITS namanya pengkaderan, atau lebih spesifik lagi di Teknik Informatika namanya FORMAT 2005), dibuatlah database 2005. Terpikir lagi nama Amir. Akhirnya ku mencari-cari mahasiswa bernama Amir di database 2005. Tapi….kok nggak ada ya…confused. Ada apa gerangan? Ada 2 opsi, opsi pertama di emang gak ketrima di TC. Opsi kedua, dia ketrima tapi nggak daftar ulang.

Memasuki hari-hari kuliah. Mahasiswa ITS biasanya di tahun-tahun pertama ada kuliah TPB (Tahun Pertama Bersama) untuk mata kuliah kalkulus, fisika dasa, dan bahasa inggris. Dimana dalam 1 kelas ada berbagai macam mahasiswa dari berbagai jurusan S1 di ITS. Berkenalan-berkenalan, akhirnya menemukan alumnus SMA 21 Surabaya yang kuliah di jurusan Biologi ITS. Bercerita-cerita lalu aku bertanya “Temenmu yang namanya Amir, yang danemnya tertinggi se-Jawa Timur itu masuk mana sih? Di koran aku liat pilihan pertamanya TC. Tapi kok di database 2005 gak ada”. Si anak Biologi itu menjawab “O…dia ketrima di Teknik Kimia. Aku juga. Dulu pilihan pertamaku TC. Tapi cuma ketrima di Biologi.”

Ouw, begitu ya. Malamnya kuceritakan ke Sari, “Saw, masih ingat dengan anak yang danemnya tertinggi se-Jawa Timur nggak? Dia nggak ketrima di TC. Wah…brarti kita bisa ngalahin dia donk.” Sari “Biasa ae po’o.”

Beberapa minggu berlalu, keluarlah pengumuman STAN. Dan seperti sudah diprediksi sebelumnya, aku nggak ketrima he…he…he…big grin. Soal yang aneh sih. Kucocokkan soalku dengan soal temanku (sewaktu habis ujian lho ya), ternyata soalnya beda. Tapi anehnya, gak ada kode soal. Aku dan teman-teman menduga, jangan-jangan kode soal ada di soal nomor satu. Kalo nomor satu sudah salah, brarti dijamin salah semua (ngeles nih) . Dari 8 angels (aliansi generasi loro smalabaya) yang daftar, 5 wanita dan 3 pria, hanya 2 angels yang ketrima. Pria semua.

Oke, nggak ketrima di STAN gak masalah. Toh, aku sudah punya tempat bernaung. Bertolak belakang dengan temanku Deddy, teman senasib seperjuangan dari SMP hingga SMA bersekolah di sekolah yang sama, sampai akhirnya SPMB pun pilihan pertama sama, tapi dia harus gigit jari karena gak lolos SPMB. Sebagai gantinya, ternyata Deddy lolos ke STAN. Allah memang Maha Adil.

1 Response so far »

  1. 1

    siganteng said,

    woyyy jenenge duduk amir ndahhh, jenenge saipul jamil eh keliru saimul amri :p, biyen konco sak kamarku, dia barusan lulus dari stan dan tetep berada di rangking 4 IPK tertinggi di spesialisasi pajak, ngalahno deddy, sedangkan saya masih belum lulus nih buw, masih cinta ama STAN, hehehe. Doain ya taun depan bisa lulus dengan IPK yang baik jadina aq bisa masuk instansi idamanku


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: