Pergeseran prestise dari pegawai ke pengusaha

Waktu sedang nungguin miki nemui pak arunanto di puskom, saya duduk di ruang tamu puskom. Saya melihat sebuah majalah internal ITS. Sambil menunggu iseng-iseng aja saya baca.

Saya tertarik tentang artikel Hendy Setiono pemilik bisnis franchise Kebab Turki Baba Rafi yang tidak lain tidak bukan adalah alumnus Teknik Informatika ITS angkatan 2000 yang men-DO-kan dirinya pada semester 4 kuliahnya. Di artikel tersebut beliau sangat mendukung program Technopreneurship yang diselenggarakan oleh kampus ITS. Beliau sendiri berkata sekarang ini adanya pergeseran prestise dari pegawai ke pengusaha. Jaman dulu para lulusan S1 berlomba-lomba mencari lapangan pekerjaan karena menjadi pegawai adalah suatu kebanggaan tersendiri dan menjadi pengusaha terutama jika usahanya masih kelas bawah dianggap sebagai kasta terendah.

Namun saat ini yang terjadi adalah lapangan kerja semakin sempit, banyaknya PHK, membuat orang untuk berpikir bagaimana agar bisa menciptakan lapangan kerja baru baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Banyak orang-orang yang menulis buku-buku tentang bagaimana “susah menjadi kaya”-nya para pegawai. Butuh kerja bertahun-tahun bari bisa kaya.

Toh tidak selamanya jadi pegawai seperti itu. Tidak sedikit pegawai yang menjadi sukses. Namun menarik memang menurut saya wacana seperti ini. Saya tidak membela maupun menjelek-jelekkan profesi pengusaha maupun profesi pegawai. Tetapi jujur saya akui, saya lebih bangga memang menjadi pengusaha terutama jika saya juga bisa memberikan lapangan kerja bagi orang lain. Kalo banyak yang bilang “Lulusan S1 kok cuma jualan bakso. Lulusan S1 kok jadi loper koran.  Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya cuma buka warung/toko”.

Meski cuma jualan bakso, tapi jika tekun toh usaha bisa menjadi besar. Saya pernah membaca koran Jawapos (saya lupa edisi berapa) tentang alumnus Teknik Kimia ITB yang awalnya bekerja di suatu perusahaan asing dengan gaji 7 juta per bulan. Merasa tidak puas dengan pekerjaannya dia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mendirikan warung bakso. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, omsetnya sudah mencapai lebih dari 21 juta. Dia memang tidak mau mewaralabakan usaha baksonya itu, dia lebih memilih menangani sendiri.

Menjadi pengusaha memang jauh lebih berat awalnya ketimbang menjadi pegawai. Pegawai, begitu diterima kerja, dia bisa langsung menikmati gaji bulanan jika memang dalam pekerjaannya dia seriusi hingga dia tetap dipertahankan  di instansi tempat dia bekerja. Sedangkan jika menjadi pengusaha, harus  ngoyo (kalo orang jawa bilang) dari awal terutama jika modal tidak banyak (INGAT, modal tidak selalu identik dengan uang). Belum lagi jika tersandung masalah ini itu. Karena itu orang yang mentalnya tidak kuat tidak akan bisa bertahan. Pengusaha sejati adalah orang yang bisa membedakan sibuk dan poduktif. Kita tahu tidak sedikit orang yang dari subuh sudah berjualan keliling-keliling kampung, buka warung, tapi tetap saja penghasilannya segitu-segitu saja.

Yang penting untuk menjadi pengusaha kata kuncinya adalah kreatif dan tidak mudah menyerah. Modal itu nomor kesekian. Dan sekali lagi modal tidak selalu identik dengan uang. Toh jika ada yang modalnya adalah kepercayaan, dia bisa saja menjualkan barang orang lain dengan prinsip bagi hasil. Jika dia punya tanah, dia bisa sewakan kepada orang yang ingin membuka usaha lalu keuntungan dibagi-bagi sesuai kesepakatan. Asal ada kemauan disitu ada jalan.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    LuXsmaN said,

    semua kalau ada modal pasti bisa…..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: